Admin Muhammad Sarmuji
Otoritas Keuangan Kurang Punya Sense of Crisis

Otoritas moneter, fiskal, dan jasa keuangan kurang memiliki sense of crisis. Buktinya, saat rupiah terpuruk, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) justru mengeluarkan pernyataan yang membuat gugup pelaku pasar bahwa perbankan masih tahan andai rupiah melemah ke level Rp 20.000 per dolar AS. Petinggi Bank Indonesia (BI) juga kurang tanggap terhadap dinamika pasar. Alih-alih proaktif menenangkan pasar, petinggi bank sentral malah bepergian ke luar negeri saat rupiah bergejolak.

Di pihak lain, para petinggi pemerintah pun menyikapi pelemahan rupiah dan kondisi perekonomian terkini secara biasa-biasa saja. Tak tampak sedikit pun suasana yang menunjukkan mereka bekerja ekstra. Padahal, perekonomian sedang bermasalah.

Selain menghadapi tekanan kurs, ekonomi Indonesia pada kuartal I-2018 tumbuh di bawah ekspektasi, hanya 5,06% secara tahunan (year on year/yoy), lebih rendah dari kuartal IV-2018 sebesar 5,19%.

Ke depan, OJK, BI, dan pemerintah harus menunjukkan sense of crisis yang tinggi terhadap rupiah, dengan tidak mengeluarkan pernyataan dan tindakan yang dapat menimbulkan sentimen negatif di pasar.

Kecuali itu, bank sentral harus segera menaikkan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI 7-DRRR) guna mencegah kian besarnya arus modal keluar (capital outflow) yang akan membuat nilai tukar rupiah semakin tertekan.

Hal itu terungkap dalam wawancara dengan Ketua Komisi XI DPR Melchias Markus Mekeng, anggota Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun, anggota Komisi XI DPR Willgo Zainar, Anggota Komisi XI DPR Muhammad Sarmuji, Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik (PSEKP) Universitas Gadjah Mada (UGM) A Tony Prasetiantono, Wakil Direktur Indef Eko Listiyanto, dan analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada.

Mereka mengemukakan hal itu secara terpisah di Jakarta, Rabu (9/5), sehubungan dengan terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS seiring masifnya capital outflow dari pasar saham dan obligasi. Rupiah telah menembus level psikologis Rp 14.000, sehingga kian jauh dari asumsi APBN 2018 sebesar Rp 13.400 per dolar AS. (ant/az)

Sumber: beritasatu, 12 Mei 2018

Komentar

Kolom Komentar